Loading

Mobil Karya Anak Bangsa

Mobil-mobil murah karya anak bangsa di Arena Pameran JiExpo di Kemayoran Jakarta Pusat dijubeli ratusan pengunjung kemarin siang (15/5). Setelah beberapa tahun gaung program mobil nasional tidak terdengar lagi, beberapa pengusaha dalam negeri mulai berlomba untuk mmebuat mobil nasional.
Mobil Murah GEA
Di pameran kemarin setidaknya sudah ada empat unit mobil yang sudah dipamerkan. Keempat mobil yang diklaim memiliki kandungan lokal sebesar lebih dari 90 persen yang artinya hampir semua dibuat dan diproduksi di Indonesia. Salah satu mobil itu bernama Tawon, yang diharapkan menjadi pengganti bajaj. Harganya sangat murah, yakni cuma dipatok sebesar Rp 48juta.
Dua mobil lainnya adalah GEA (gambar samping) dan UPV Arina yang cocok sebagai city car (mobil perkotaan). Untuk GEA, harganya Rp 50juta. Sedangkan UPV Arena dipatok Rp25-32juta, bergantung mesinnya. Mobil satunya lagi yang diberi nama Komodo. Mobil yang cocok untuk off roda atau digunakan untuk menjelajah medan-meda terjal tersebut dibanderol dengan harga Rp 45juta untuk satu kursi dan Rp 50juta untuk dua kursi.
Diharapkan produksi mobil karya anak bangsa ini bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kualitas dan Service diharapkan tidak kalah dengan merk luar yang sudah merajai Indonesia.

Salam dari Kami, Pelajar Indonesia yang Menuntut Ilmu di Malaysia

Sebelumnya perkenalkan, saya adalah salah satu dari belasan ribu anak bangsa yang sedang menuntut ilmu di negeri sebrang yaitu Malaysia. Sudah hampir 3tahun saya belajar di Malaysia, tahun depan adalah tahun terakhir saya menuntut ilmu disini. Saya hanya sekedar ingin berbagi cerita kepada rekan-rekan sekalian tentang bagaimana kami disini.
Sejak pertama saya datang ke Malaysia, saya tidak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman-teman disini, baik itu oleh sesama warga Negara Indonesia, warga Negara Malaysia ataupun oleh warga Negara Asing lainnya. Atas kejadian yang sedang terjadi saat ini terhadap Indonesia dan Malaysia, saya merasa prihatin. Mengapa? Karena banyak orang yang berkomentar di media dengan mempertanyakan kami para pelajar Indonesia di sini. Bukan mempertanyakan keselamatan kami melainkan mereka mempertanyakan dimana rasa Nasionalis kami dan rasa peduli kami terhadap Bangsa Indonesia. Mereka bertanya “Mengapa kami memilih Malaysia untuk tempat kami belajar disaat masih banyak Universitas berkualitas di Indonesia yang dapat memberikan banyak ilmu kepada kami?”
Jawaban dari saya pribadi adalah, memang benar masih banyak Universitas terkemuka di Indonesia yg menjanjikan untuk kita. Tapi sekarang, apalah arti dari sebuah nama Universitas terkemuka itu. Mungkin dulu, kalau kita bisa diterima menjadi salah seorang mahasiswa disana, perasaan bangga akan muncul karena kita dapat dikategorikan kedalam jajaran mahasiswa-mahasiswa dengan prestasi yang tinggi. Tapi sekarang? Dengan semakin banyaknya Ujian Saringan Masuk yang mengharuskan kita untuk memberikan Dana Sumbangan Pembangunan sebesar mungkin agar menjamin kita untuk dapat diterima di universitas tersebut, apalah arti dari prestasi kita? Banyak pelajar berprestasi tapi dia tidak bisa diterima oleh Universitas terkemuka hanya karena dia tidak dapat memenuhi standar Dana Sumbangan Pembangunan. Sungguh disayangkan sekali. Karena itu saya memutuskan untuk mengambil pendidikan diluar Indonesia.
Tapi mengapa harus Malaysia? Karena letak geografis Malaysia masih dekat dengan Indonesia, dan dengan budaya yang hampir sama akan memudahkan saya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada salah satu komentar di salah satu artikel yang mengatakan bahwa kami pelajar-pelajar Indonesia di Malaysia itu adalah pelajar-pelajar yang hanya sok ingin menuntut ilmu di luar negeri tapi dengan modal nanggung tidak seperti mereka-mereka yang belajar sampai ke Eropa. YA! Memang benar biaya juga menjadi salah satu alasan saya dan keluarga saya memilih Malaysia. Dengan biaya yang hampir sama dengan “Dana Sumbangan Pembangunan” Universitas terkemuka di Indonesia, saya bisa sekolah disini dengan mendapatkan poin plus yaitu belajar lebih mandiri dan mendapat banyak teman baru dari mancanegara. Dan saya pun bisa mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia lebih jauh lagi. Sungguh disayangkan mengapa mereka-mereka yang mengaku sedang menuntut Ilmu di Eropa malah mempunyai pikiran sedangkal itu. Apalah gunanya anda berbangga hati dengan apa yg sedang anda lakukan skrg di Eropa tapi tidak dibarengi dengan pola pikir yang baik?
Ada lagi yang mengatakan, bahwa kami tidak mempunyai rasa Nasionalis karena kami hanya berdiam diri tidak memberikan pembelaan terhadap petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Indonesia yang ditangkap oleh Polisi Diraja Malaysia. Mereka menanyakan, mengapa kami diam saja? Mengapa kami tidak berdemo ke Polisi Diraja Malaysia untuk segera membebaskan 3 petugas DKP yg ditahan? Saya menjadi bingung. Itukah yang orang-orang Indonesia harapkan dari kami yg sedang berada disini? Apakah berdemo akan menyelesaikan masalah? Masalah perbatasan laut Indonesia dan Malaysia itu sudah cukup lama terjadi dan sampai sekarang belum juga menemui penyelesaian yg jelas. Biarlah para petinggi-petinggi dari kedua negara yang meyelesaikan masalah itu. Janganlah kita mudah terprovokasi oleh keadaan tanpa mengetahui seluk beluk permasalahan secara jelas. Berpikir pintar dan bertindak bijak akan sangat membantu kita semua untuk keluar dari semua permasalahan ini dibandingkan dengan hanya adu otot.
Belum sampai disitu, hujatan masih terus menghampiri kami pelajar Indonesia yang ada di Malaysia. Di salah satu artikel ada yang mengatakan “Kalian gak usah pulang aja! Kita-kita di Indonesia nggak butuh kalian yang tidak mempunyai rasa bangga terhadap Negara sendiri” begitulah kira-kira kalimatnya. Itu semua salah besar! Dari mana mereka bisa berpendapat seperti itu tanpa mengetahui apa yg telah kami lakukan disini? Sekedar informasi, saya dan teman-teman saya yg berada di Malaysia baru saja melaksanakan peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke 65 di kampus saya. Kami diberikan izin untuk mengibarkan sang saka Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tidak hanya warga Indonesia yg kami undang untuk merayakan kemerdekaan kita, kami juga mengundang teman-teman kami yg berasal dari berbagai macam Negara,termasuk rekan-rekan kami dari Malaysia. Sekarang saya berani bertanya kepada anda pelajar Indonesia yang sedang berada di Tanah Air. Dimana kalian pada saat tanggal 17 Agustus kemarin? Apa yang anda lakukan untuk mengisi peringatan kemerdekaan kita kemarin? Menikmati “tanggal merah” dengan jalan-jalan ke Mall? Atau menikmati “tanggal merah” dengan bersantai dirumah? Sekarang masih maukah anda mengatakan bahwa kami tidak mempunyai rasa bangga terhadap negeri kami sendiri?
Jika saya harus menjelaskan satu-satu disini apa saja yang telah saya dan teman-teman saya lakukan di Malaysia untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia, mungkin tidak akan cukup berpuluh-puluh ribu karakter lagi untuk saya agar dapat menjelaskan semuanya. Jadi saya mohon kepada teman-teman semua yang berada di Indonesia, tolong janganlah anda semua dengan mudahnya menuding kami dengan pernyataan yang anda pun belum tentu tahu akan kebenarannya. Juga terhadap media yang ada di Indonesia agar lebih selektif lagi dalam menyaring berita yang akan dikonsumsi oleh publik. Janganlah kalian membuat berita yang hanya dapat menyulut amarah dan menjadikan provokasi diantara kita semua. Kami disini akan terus berusaha semampu kami untuk tetap mengarumkan nama bangsa Indonesia agar kami bisa dengan bangga mengatakan “I am Indonesian!”.



Guest Book

Polling

Bagaimana Pendidikan di Indonesia saat ini ?